Book info

The Hunter: A Detective Takako Otomichi Mystery (2007)

The Hunter: A Detective Takako Otomichi Mystery (2007)
Author
Rating
3.25 of 5 Votes: 2
ISBN
4770030258 (ISBN13: 9784770030252)
languge
English
genre
publisher
kodansha
Rate book
The Hunter: A Detective Takako Otomic...
The Hunter: A Detective Takako Otomichi Mystery (2007)

About book: Oke, dimulai dari cover!Harus saya akui, saya sukaaaa banget sama desain covernya, goresannya menggambarkan jalan raya tokyo yang dreary but somehow melancholy. Dan saya suka dengan gagasan kanji ‘Kogoeru Kiba’ dan nama pengarangnya yang tetap dipertahankan. To be honest, kanji-kanji inilah yang mencuri perhatian saya dan membuat saya mengambilnya dari setumpukan buku-buku new arrival di toko buku saat itu.Move on to the story.Secara garis besar, novel ini berkisah tentang seorang polisi bernama Takako Otomichi di mana pada saat itu, kaum wanita yang bekerja di kepolisian masih merupakan hal yang belum terlalu umum. Suatu hari di awal tahun, seorang pria ditemukan terbakar secara mengenaskan dengan ikat pinggang berpengatur waktu yang dicurigai sebagai alat pembunuhan. Untuk membongkar kasus tersebut, Takako yang masih digolongkan anggota junior kepolisian, dipasangkan dengan Tamotsu Takizawa yang berperakan besar, dengan wajah agak kasar dan sering Takako samakan dengan Penguin Kaisar. Namun tak sampai di situ saja, pembunuhan lainnya pun terjadi dengan melibatkan seekor hewan yang diduga anjing yang sangat besar terjadi pada beberapa orang dan tugas mereka berdua pun beralih untuk menangkap hewan apa pun yang melakukan pembunuhan tersebut.Oke, pertama dari segi penulisan.Untuk novel yang diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya (bener kan?) saya angkat topi. Ada beberapa pemilihan kata-kata yang kurang pas sebetulnya, tapi itu bisa saya maafkan. Namun, tolong ya, saya sangat benci membaca nama si anjing serigala yang diartikan itu! TOPAN. Memang apa salahnya mempertahankan nama dalam naskah aslinya, HAYATE, dan malah men-translate-nya?! Lantas kenapa nggak sekalian aja Takako diartikan jadi ‘Gadis Berderajat Tinggi’ dan Takizawa jadi ‘Aliran Air Terjun’ atau entah apa, saya nggak tau kanjinya. Well, inilah pertama kalinya saya nemu cerita terjemahan dari jepang di mana ada nama tokoh yang di-bahasaindonesiakan. Mungkin saya yang kurang membaca atau apa, sehingga saya baru tahu, tapi yang jelas nama itu, TOPAN, SANGAT TIDAK ENAK dibaca. Titik.My next complaint goes to the editor!! Histris, mistrius, dan sederet typo lainnya, kadang membuat saya mikir, “Ini si editor sebenernya magabut atau gimana?” I wondering if she or he knows the meaning of EYD.. Lalu, ada beberapa pilihan kata yang kurang tepat dari sang penerjemah, dan hal itu sepertinya luput begitu saja dari mata jeli sang editor.Selanjutnya, mungkin inilah yang paling penting, dari segi cerita.Saat membaca ini, saya seakan mendengar suara Candil yang bernyanyi “Polisi jugaaaa manusiaaaa…”Yap, betul. Penokohan dan penceritaan benar-benar manusiawi, mengupas tentang sisi-sisi yang nggak pernah kita ketahui ternyata juga dimiliki oleh para anggota kepolisian. Bagaimana mereka menghadapi kasus dan berusaha sekuat tenaga menyelesaikannya di samping pada, saat yang bersamaan, kehidupan pribadi mereka pun tak kalah bermasalahnya. Novel ini membuat saya paham bahwa pekerjaan polisi dan detektif dalam melaksanakan kewajiban mereka tidak serta merta dapat dilakukan begitu saja, melainkan harus melalui banyak proses dan seringkali mencapai jalan buntu yang melelahkan. Bahwa kita tak bisa seenaknya berkata: “Apa aja sih yang dikerjain polisi itu?!” hanya karena kasus kita tak selesai dalam sekejap mata seperti yang kita harapkan.Namun di samping itu, jujur saya merasa agak kecewa.Kata-kata “memenangkan penghargaan Naoki yang bergengsi” itu lewat begitu saja dalam benak saya. Untuk meraih pernghargaan se-bergengsi itu, menurut saya tidak ada yang fantastis dalam buku ini. Kasusnya biasa, penceritaannya biasa, dan saya masih bertanya-tanya, apa hubungan antara ketiga korban yang telah dicabik habis oleh Hayate (saya nggak mau pake nama TOPAN di sini) tersebut? Mengapa tidak turut diceritakan? Apa hal ini luput begitu saja dari penulis yang memenangkan penghargaan sebesar itu? Dan walau pun saya juga membaca beberapa resensi tentang buku ini yang kesemuanya menyebutkan tentang adegan-dramatis-yang-dapat-mengurai-air-mata-pembaca di akhir cerita, kenyataannya saya hanya mencibir dan menutup buku keras-keras ketika menamatkannya.Yah, untuk plot-hole-nya (yang entah bagaimana dilewatkan begitu saja oleh si pemberi penghargaan bergengsi), untuk kedataran emosi di klimaks ceritanya (menurut saya), untuk penjabaran tentang kehidupan para polisinya, untuk detail keterangan tentang anjing serigalanya (this is special for me, since I love wolves), over all, saya beri nilai 7.Pour the water on coffe and grab The Hunter in your hand at the rainy evening, not so bad, though =D

The Hunter began with an incident happened at a restaurant, a man was burn alive in front of waiter, the plot moved quickly to police investigation conducted by a team which was included Sergeant Tamotsu Takizawa, then came along beautiful and young Takako Otomichi who was the only female member of the motorcycle squad, and Takizawa and Takako became a partner for solving this mysteryTakizawa was unhappy with this situation, gender issue was still a big deal in police department, and Takizawa had been an asshole and never tried to be friendly with Takako.I like the development of characters in this novel, I realized that somehow between Takako and Takizawa will never be any romance nor friendship, but what really matter is they get their jobs done.also this novel reminds me that to solve a murder or mystery, you need a WHOLE team, so this is NOT a ONE MAN SHOW, because you rely on your friends and you also MUST help your friends to get this done.so no more Conan Doyle's Sherlock Holmes, this is about a TEAMWORK.and I really love about the beautiful description about the unusual relationship between Takako and "The Hunter" (a half breed wolf dog), they both trust each other, but they both have different motives.beautiful phrase I noted from this novel :"True Happiness could never come from other's Grief and Sadness"all and all, this is a nice and enjoyable novel, very good for a bedtime book.
1
353
download or read online
Reviews
Vanessa
Saya menyukai bagaimana penulis mendeskripsikan step by step anggota kepolisian menyelidiki sebuah kasus, mulai dari bagaimana judul sebuah kasus ditetapkan sampai kemudian kasus ditutup. Yang menarik selain deskripsi mengenai langkah-langkah yang begitu jelas adalah hubungan kedua mitra kerja Takizawa dan Takako yang mengalir dan melunak seiring waktu, tidak terburu-buru namun berjalan dan terasa alami. Karakter Takako pun terasa begitu pas sebagai seorang polisi wanita di antara para polisi di
destinugrainy
Seorang pria memasuki sebuah restoran ketika waktu sudah menunjukkan tengah malam. Dia memesan tempat untuk dua orang. Pelayan yang melayaninya mempersilahkan dirinya duduk di sebuah meja, lalu melayani pengunjung lain. Tiba-tiba saja, api menyulut pria tersebut dari pinggang ke atas. Semua orang terkejut, bahkan pelayan yang berada di dekatnya tidak mampu berbuat apa-apa. Kejadian itu berakhir dengan tewasnya pria itu beserta beberapa orang yang terluka akibat saling berdesakan untuk keluar dari restoran. Bukan itu saja, api yang merambat membakar hampir separuh dari gedung dimana restoran itu berada.Takizawa adalah salah satu petugas polisi yang bertugas di tempat kejadian malam itu. Berdasarkan hasil penyelidikan, selain luka bakar ditemukan juga bekas gigitan anjing pada tubuh korban. Kesimpulan sementara adalah bahwa korban tidak melakukan bunuh diri karena sempat meminta tolong. Belum tuntas penyelidikan akan korban yang tewas akibat luka bakar tadi, seorang korban ditemukan tewas karena diserang anjing. Tim investigasi yang terdiri atas beberapa detektif segera dibentuk untuk menyingkap identitas korban, pelaku pembunuhan, dan hubungan antara kedua kasus tersebut. Dalam tim tersebut, Takizawa dipasangkan dengan detektif perempuan Takoko Otomichi.Selain mengisahkan tentang jalannya penyelidikan, novel ini juga menyorot hubungan antara Takizawa dan Takoko. Pada dasarnya keduanya tidak saling menyukai. Takizawa yang ditinggalkan istrinya, tidak senang dipasangkan dengan detektif wanita yang menurutnya terlalu manis untuk menjadi polisi. Sementara Takoko yang juga sudah bercerai tidak menerima perlakuan sinis dari partnernya. Hanya saja sebagai yang lebih muda, Takoko masih menaruh hormat pada pria yang disebutnya “penguin kaisar” itu. Pada bagian awal hingga mencapai pertengahan buku, konflik tersembunyi antara kedua tokoh ini terasa lebih dominan dibandingkan kasus yang mereka hadapi .Titik terang kasus yang mereka hadapi mulai terlihat jelas ketika muncul dua korban lainnya yang juga diserang oleh anjing yang sama. Hasil penyelidikan menyebutkan bahwa anjing yang membunuh korban lainnya adalah anjing serigala. Takoko yang tertarik dengan anjing mencoba melakukan penyelidikan ilmiah mengenai anjing serigala tersebut, sampai mendatangi pusat penjualan anjing serta dinas kepolisian yang melatih anjing khusus. Sementara Takizawa merasa apa yang dilakukan Takoko hanyalah buang-buang waktu.Secara keseluruhan saya melihat bahwa penulis berusaha mengangkat dua hal dalam novel ini, yaitu betapa beratnya kehidupan seorang polisi (detektif) dan juga mengenai perilaku anjing serigala. The Hunter adalah simbol untuk kedua makhluk hidup yang berbeda ini. Seorang polisi yang bekerja mengejar pelaku pembunuhan meski harus mengorbankan banyak hal termasuk keluarga, juga seekor anjing serigala yang menunjukkan kesetiaannya mencari orang-orang yang pernah menyakiti tuannya.Meski jalan ceritanya menarik, saya sempat dibuat tidak sabar dengan alur yang terasa lambat. Penyebutan terhadap tokoh sang detektif wanita yang kadang dipanggil Takoko kadang dipanggil Otomichi membuat saya terkadang bingung. Selain itu saya juga menyesalkan penerjemahan nama untuk si anjing serigala dari Hayate menjadi Topan. Ohya, ternyata sudah ada film adaptasi yang dibuat berdasarkan novel ini. Judulnya Howling yang dirilis oleh Korea Selatan pada tahun 2012.
Beth
At ten minutes to midnight, a man walks into a family restaurant in Tokyo. Masayo, a waitress, escorts him to a table, hands him a menu, and moves to deliver coffee to customers at another table. “…she set a bottle of beer and a glass on a tray and started toward the man’s table. The words “Sorry to keep you waiting” were in the middle of her throat when it happened – flames shot up, right before her eyes….At first, Masayo was too stunned to realize what was happening. The next instant, she was screaming in terror.” The flames burned hotter and higher as customers and employees tried desperately to escape the fire. Masayo gets knocked to the floor and crawls, blindly, toward the wind. But the wind feeds the flames and soon the restaurant is engulfed. It seemed as if it only took a minute for hell to take over.One thing the arson investigators and the police know with certainty. There is no such thing as spontaneous combustion. The man at the center of the inferno either set himself on fire or somehow, someway, someone else did it.The public are hysterical, fearful of the unexplained, so the police department calls in every available body from the Tokyo police and from surrounding communities. Partners are assigned seemingly randomly and, from the point of view of one member of a pair, seemingly without thought to which two people might actually be able to work together. Takako Otomichi is the only female member of the motorcycle squad. Sergeant Tamotsu Takizawa is experienced, determined, and furious that he was been partnered with a girl.The pressure increases significantly when more bodies are found, seemingly killed by a wild beast. The odd couple struggle along, he always walking fast and away from her, she always keeping up, he always making comments about her to her, she pretending she doesn’t hear them. When, finally, they have to interview Masayo in her hospital room, and she will only talk to Takako, the sergeant acknowledges that maybe a female can be an asset.Strange as it first appears, the police believe that the death in the restaurant is connected to the killings that show the signs of an animal attack. Takako and Takizawa follow leads that take them to Tokyo’s red light district, to nightclubs, drug dealers, and a teenage prostitution ring. How could any of this be connected to the attacks of a wild animal?THE HUNTER is fast-paced and it is a fast read. Both police officers are likeable and the story has a satisfactory ending. The murders are grisly but the details can be easily skipped. There are no details about the prostitution ring or the drug dealers.Unfortunately, no other books in the series were made available in English.
Review will shown on site after approval.
(Review will shown on site after approval)